Akses Pendidikan
Sebagian anak usia sekolah terkendala untuk masuk ke sekolah formal karena belum memiliki dokumen administrasi seperti akta kelahiran maupun kelengkapan data keluarga.
Gagasan tersebut tumbuh dari pengalaman Nurmanisma Hasibuan, M.Pd.I, seorang pendidik yang pada saat itu aktif mengajar sekaligus mendapat amanah sebagai Kepala Madrasah di salah satu madrasah swasta di Kecamatan Batu Ampar, Kota Batam.
Selain berkecimpung dalam dunia pendidikan, beliau juga aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan bersama berbagai lembaga dan organisasi di Kepulauan Riau. Pengalaman tersebut mempertemukannya secara langsung dengan berbagai persoalan yang dihadapi anak-anak dan keluarga di lingkungan sekitarnya.
Penggagas berdirinya Madrasah Ibtidaiyah Baitul Amar.
Pada masa itu, masih banyak anak usia sekolah di Kota Batam yang mengalami hambatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Persoalannya tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga administrasi keluarga, lingkungan sosial, dan keterbatasan akses terhadap sekolah.
Sebagian anak usia sekolah terkendala untuk masuk ke sekolah formal karena belum memiliki dokumen administrasi seperti akta kelahiran maupun kelengkapan data keluarga.
Anak-anak dari keluarga dhuafa, yatim, maupun keluarga dengan keterbatasan ekonomi membutuhkan akses pendidikan yang tetap terjangkau dan memberikan kesempatan untuk terus belajar.
Di sejumlah kawasan di Batam, masih ditemukan anak usia sekolah yang bekerja sebagai pemulung, pengamen, pekerja informal, maupun membantu keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Keterbatasan pengawasan dan pendidikan membuat sebagian anak lebih rentan terhadap eksploitasi, pergaulan yang tidak sehat, kekerasan, dan berbagai persoalan sosial lainnya.
Kondisi tersebut memperkuat keyakinan bahwa anak-anak tidak cukup hanya dibantu secara sesaat. Mereka membutuhkan sebuah tempat belajar yang aman, terarah, dan mampu memberikan kesempatan untuk membangun masa depan.
Sebelum berdiri sebagai lembaga pendidikan formal, kepedulian terhadap anak-anak diwujudkan melalui rumah singgah dan berbagai kegiatan pendidikan nonformal di sejumlah wilayah Kota Batam.


Upaya awal dilakukan dengan membangun kegiatan rumah singgah di beberapa wilayah, khususnya di Jodoh, Bengkong, dan Batu Ampar.
Tempat-tempat tersebut menjadi ruang untuk mendampingi anak-anak yang membutuhkan perhatian, pendidikan, dan lingkungan belajar yang lebih baik.
Anak-anak yang berkumpul di rumah singgah diberikan pendidikan nonformal berupa pembelajaran adab dan akhlak, membaca, menulis, kaligrafi, belajar shalat, serta berbagai aktivitas sosial.
Mereka juga dilibatkan dalam kegiatan kemanusiaan sebagai bagian dari proses belajar tentang kepedulian, tanggung jawab, dan kehidupan bermasyarakat.
Dari proses pendampingan tersebut muncul kesadaran bahwa anak-anak membutuhkan lebih dari sekadar pendidikan nonformal. Mereka juga membutuhkan pendidikan formal yang diakui agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Dari sinilah gagasan untuk membangun sebuah lembaga pendidikan Islam formal mulai semakin kuat.
Penggagas utama pendirian MI Baitul Amar.
Rekan seprofesi yang diajak mendukung proses awal pendirian.
Turut mendukung proses awal berdirinya MI Baitul Amar.
MI Baitul Amar memulai perjalanan pendidikannya dengan 11 orang siswa dan proses belajar yang masih dilakukan di rumah pendiri.
Pada masa awal, Yayasan Baitul Amar belum memiliki lahan maupun gedung sekolah sendiri. Proses pembelajaran dilakukan di rumah Nurmanisma Hasibuan di kawasan Kavling Sei Tering, Kota Batam.
Proses belajar mengajar pada masa awal didukung oleh Sarinah Batu Bara, Yeni, dan Ustadz Arman Siagian. Dengan fasilitas yang masih terbatas, kegiatan pendidikan tetap berjalan dengan semangat pengabdian.
Pendidikan pada masa awal diprioritaskan bagi anak-anak dari rumah singgah, anak putus sekolah, yatim, dhuafa, serta anak usia sekolah yang mengalami kendala administrasi.
Bagi anak-anak yang termasuk dalam sasaran tersebut, pendidikan diberikan secara gratis hingga selesai. Dalam beberapa kondisi, keluarga siswa juga mendapat dukungan sesuai kemampuan yayasan pada saat itu.

Para pendiri dan guru tidak hanya menunggu siswa datang. Mereka melakukan penelusuran ke sejumlah kawasan di sekitar Jodoh, Bengkong, dan Batu Ampar untuk menemukan anak-anak putus sekolah, yatim, maupun dhuafa yang masih membutuhkan kesempatan memperoleh pendidikan.
Setiap fase menjadi bagian penting dalam perjalanan MI Baitul Amar, mulai dari gagasan awal, proses pendidikan pertama, hingga perkembangan fasilitas madrasah.
Nurmanisma Hasibuan mulai mewujudkan gagasan mendirikan sebuah lembaga pendidikan formal yang dapat membuka akses pendidikan bagi anak-anak yang membutuhkan.
Madrasah Ibtidaiyah Baitul Amar resmi didirikan dengan semangat menghadirkan pendidikan Islam yang terbuka bagi anak-anak dari berbagai kondisi sosial dan ekonomi.
Dengan 11 siswa dan tiga guru pada masa awal, proses pembelajaran berlangsung di rumah pendiri di kawasan Kavling Sei Tering, Kota Batam.
Izin operasional MI Baitul Amar diterbitkan oleh Kementerian Agama Kota Batam, memperkuat keberadaan madrasah sebagai lembaga pendidikan formal.
Sekitar tiga tahun setelah perjalanan awal dimulai, gedung MI Baitul Amar berhasil dibangun di atas lahan dengan luas sekitar 1.400 meter persegi.
Meski fasilitas dan ruang kelas pada masa itu masih sederhana, keberadaan gedung menjadi tonggak penting bagi perkembangan madrasah.

Melalui dukungan Kementerian Pekerjaan Umum dan program PHTC, bekerja sama dengan Kanwil Kementerian Agama Kepulauan Riau dan Kementerian Agama Kota Batam, fasilitas Baitul Amar kembali mengalami pengembangan.
Perjalanan panjang yang bermula dari proses belajar di sebuah rumah kini berkembang menjadi madrasah dengan fasilitas yang jauh lebih baik untuk mendukung kegiatan pendidikan.

Perjalanan MI Baitul Amar bermula dari kepedulian terhadap anak-anak yang membutuhkan kesempatan untuk belajar. Dari rumah singgah, 11 siswa pertama, hingga berkembang menjadi madrasah seperti saat ini, semangat tersebut tetap menjadi bagian penting dari perjalanan Baitul Amar.
Hari ini, MI Baitul Amar terus berupaya menghadirkan pendidikan Islam yang membentuk generasi berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.
Melayani pendidikan anak-anak di Kota Batam